7 Kebiasaan Unik Warga Jogja yang Perlu Kamu Tahu

Kebiasaan Unik Warga Jogja yang Perlu Kamu Tahu – Siapa yang tidak kenal Jogja sebagai kota pelajar dan kota budaya ini? orang yang berkunjung kesini akan merasa tidak rela jika harus meninggalkan kota seribu kenangan sekaligus saksi sejarah kemerdakaan RI. Jogja kota yang unik dan asik begitupun dengan kebiasaan masyarakat disini. Warga yang begitu ramah dan sopan membuat kita harus tinggal disini.

Kebiasaan unik sekaligus mengenal budaya Jogja tidak ada salahnya, supaya kamu menambah wawasan akan kayanya budaya Indonesia. Jogja yang masih memegang teguh budayanya menjadi sasaran para turis asing untuk mendatanginya sekaligus balajar kebudayaan Indonesia.

  1. Jemparingan
Jemparingan
Jemparingan

Jemparingan merupakan olahraga panahan tradisional khusus untuk daerah Jogja dan Jawa Tengah. Yang membedakan dengan olahraga memanah biasanya, jemparingan ini menggunakan ritual yang biasa menjadi daya tarik turis asing. Jemparingan sendiri merupakan bahasa Jawa yang berarti panah dan awalnya hanya untuk latihan para prajurit keraton. Tapi seiring berjalannya waktu kegiatan ini dijadikan olahraga.

Olahraga seni tersebut rutin diselenggarakan oleh pihak Keraton Kesultanan Yogyakarta. Kegiatan ini dilakukan setiap 35 hari sekali yang bertepatan dengan hari lahir Sri Sultan Hamengku Buwono X dan biasanya bertempat di Lapangan Kemandungan Kidul, Kraton Kasultanan Yogyakarta atau Alun Alun Selatan Yogyakarta. Untuk peserta yang dilibatkan dalam lomba tidak terbatas bahkan suku bangsa lain bisa mengikutinya.

  1. Grebeg
Grebeg
Grebeg

Grebeg merupakan tradisi masyarakat Jogja yang sudah turun temurun dan rutin diadakan oleh Keraton Kesultanan Yogyakarta setiap bulan Rabiul Awal penanggalan Hijriyah yaitu saat maulid Nabi Muhammad SAW. Upacara Grebeg ini pertama kali dikenalkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I dengan tujuan untuk tetap menyebarkan dan melindungi agama Islam.

Dalam setahun kegiatan ini dilakukan 3 kali yaitu Grebeg Syawal, Grebeg Maulud dan Grebeg Besar. Ketiga Grebeg tersebut bertepatan pada penanggalan hari besar Islam. Grebeg Syawal sebagai bentuk rasa syukur keraton setelah bulan puasa, Grebeg Maulud sebagai peringatan kelahiran Nabi Muhammad saw, dan Grebeg Besar untuk menyelenggarakan Idul Adha.

  1. Pasar Malam Sekaten
Pasar Malam Sekaten
Pasar Malam Sekaten

Sekaten selalu hadir saat akan memperingati hari Maulid Nabi. Hal ini tidak pernah lepas dengan tradisi grebeg. Jadi grebeg dan pasar malam Sekaten merupakan tradisi Jogja untuk memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad SAW. Awalnya acara ini sebagai syi’ar Agama Islam oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I kepada masayarakat Yogyakarta. Tetapi Sekaten ini lebih condong kepada pesta rakyat dibandingkan syi’ar Agama Islam.

Pasar Sekaten ini bertempat di Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta selama satu bulan penuh. Pasar malam Sekaten ini merupakan perpaduan antara kegiatan dakwah Islam dan seni. Dakwah Islam dilakukan di Masjid Agung Kauman dan untuk pertunjukan seni di areal pasar malam. Seperti pasar malam pada umumnya, Pasar malam Sekaten ini juga dipenuhi oleh para penjual makanan, pakaian, permainan dan berbagai stan lainnya.

  1. Tumplak Wajik
Tumplak Wajik
Tumplak Wajik

Selain grebeg dan pasar malam sekaten, suatu upacara numplak wajik diadakan dua hari sebelum acara Grebeg Muludan. Upacara ini berupa permainan lagu dengan memakai kentongan, lumpang, dan semacamnya yang menandai awal dari pembuatan gunungan yang akan diarak saat acara Grebeg Muludan. Upacara Tumplak Wajik adalah upacara pembuatan wajik yaitu makanan khas yang terbuat dari beras ketan dengan gula kelapa.

Upacara ini dihadiri oleh pembesar Keraton dan dilengkapi dengan sesajian. Sebelum Upacara Tumplak Wajik dimulai terlebih dahulu memanjatkan doa keselamatan yang dipimpin oleh Penghulu Keraton. Setelah selesai berdoa kemudai wajik ditumpahkan untuk dibuat kerangka gunungan. Setelah proses ini selesai abdi dalem perempuan mengoleskan dlingo bangle atau empon-empon berwarna kuning di sekitar wajik. Proses tumplak wajik ini mengawali pembuatan gunungan yang akan diperebutkan dalam upacara grebeg.

  1. Saparan Bekakak
Saparan Bekakak
Saparan Bekakak

Sebuah ritual yang berlangsung sudah sangat lama dan digelar sebagai bentuk permohonan keselamatan warga Gamping. Menjadi hal yang menarik dalam ritual ini yaitu sepasang pengantin bekakak akan diarak menuju tempat penyembelihan yaitu Gunung Gamping dan Gunung Kiling. Upacara ini cukup terkenal dan sudah berlangsung sejak pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I yang dilaksanakan di Desa Ambarketawang, Gamping.

Tradisi ini bermula dari kisah sepasang pengantin yang hampir meninggal di Gunung Gamping. Konon saat Sultan HB I pindah dari Ambarketawang ke Keraton yang baru ada seorang abdi dalem yang tidak ikut pindah dan memilih untuk tinggal di Amabarketawang. Abdi dalem tersebut melakukan penggalian batu kapur untuk membangun Keraton Yogyakarta. Namun penggalian tersebut kerap menelan korban termasuk Abdi dalem tersebut.

Sejak saat itulah Sultan mencari petunjuk mengapa hal ini terjadi dan beliau melakukan tapa di kawasan Gunung Gamping. Dalam tapanya Sultan mendapat wisik dari setan penunggu Gunung Gamping. Setan penunggu meminta sepasang pengantin untuk di korbankan di tempat itu. Sultan pun menyetujui permintaannya namun delakukan dengan tipu muslihat, yaitu pengantin yang dikorbankan adalah sepasang pengantin bekakak yang terbuat dari tepung ketan dan sirup gula merah.

  1. Labuhan
Labuhan
Labuhan

Sebuah upacara yang diadakan setiap peringatan Jumenengan Dalem ke Parangkusumo. Labuhan sendiri berasal dari kata labuh yang artinya larung yaitu membuang sesuatu ke dalam air (sungai atau laut). Pada masa pemerintahan Senapati raja merasa perlu untuk mencari dukungan moril untuk memperkuat kedudukannya. Dukungan tersebut didapat dari Kanjeng Ratu Kidul.

Akhirnya keduanya terjadi perjanjian kerja sama yang pada intinya Kanjeng Ratu Kidul bersedia membentuk segala kesulitan Panembahan Senapati. Sebagai imbalan Panembahan Senapati memberikan persembahan yang diwujudkan dalam bentuk upacara Labuhan. Selanjutnya upacara labuhan menjadi tradisi Kerajaan Mataram. Karena Kanjeng Ratu Kidul dianggap hidup sepanjang masa, maka para raja pengganti tetap melestarikan tradisi ini.

Ada empat waktu pelaksaan upacara Labuhan, yaitu satu hari setelah penobatan seorang raja (jumenengen), satu hari setelah ulang tahun penobatan raja yang bertahta pada saat itu, dilakukan delapan tahun sekali dan pelaksanaannya bersamaan dengan waktu labuhan yang diadakan satu hari setelah ulang tahun penobatan, dan yang keempat dilakukan sesuai kondisi saat putera atau puteri Sultan menikah.

  1. Gerobak Sapi Hias
Gerobak Sapi Hias
Gerobak Sapi Hias

Membawa hewan peliharaan berupa sapi ke tempat penjualan berupa pasar umumnya menggunakan mobil atau truk, tapi di Jogja ada hal unik. Setiap hari pasaran, di Pasar Jangkang, Sleman ada tradisi membawa sapi menuju pasar dengan gerobak sapi hias. Gerobaknya sangat sederhana berbahan dasar bambu dan kayu juga dihias cantik menggunakan cat warna-warni dilengkapi dengan pernak-pernik sesuai selera pemilik gerobak tersebut. Gerobak Sapi ini hias ini parkir berjejer di lapangan dekat pasar.

Itu dia tadi 7 kebiasaan atau lebih tepatnya acara tradisi yang masih sering diselenggarakan di Jogja. Selain di Jogja, kota-kota lain juga punya kok acara-acara semacam ini. Contohnya, kalau kamu tinggal di Jakarta, pasti pernah kan menghadiri acara pawai ondel-ondel atau acara-acara kesenian lainnya. Kalau kamu tinggal di Jakarta, jangan lupa juga kamu pilih tempat tinggal yang nyaman dan aman, biar tetep terasa adem seperti kalau tinggal di Jogja. Salah satu tempat yang reccomended untuk tempat tinggal di Jakarta adalah Apartemen Kalibata City. Apartemen dengan konsep modern ini lengkap fasilitasnya dan terjangkau harga sewanya. Simak lebih banyak tentang apartemen ini di aplikasi atau website Mamikos.